Home > Handycraft > Kain Cual Paduan Sutera dan Benang Emas


Kain Cual Paduan Sutera dan Benang Emas

Sama seperti kain tenun khas Melayu yang khas warna cerah memikat, begitu pula dengan kain cual. Kain kuno berbenang emas menjadi buah tangan menarik untuk buah tangan. Pernah mendengar kain cual? Kain cual merupakan tenunan khas dari Pulau Bangka Belitung.

Pada dasarnya, jenis kain ini adalah songket. Keistimewaannya terletak pada lengkungan, serta motif flora, dan faunanya. Seperti motif merak, bebek setaman, kembang setangkai, kura-kura, naga besaing, kucing tidur, burung hong, gajahmada, papan sekeping. Lalu, motif kombinasi antara bebek dan kembang sumping, kembang setangkai dan kembang rukem.

Keseluruhan motif itu banyak dipengaruhi dari budaya Tionghoa. Merunut sejarah keberadaannya, kain cual sudah ada sejak abad ke-17. Kain tersebut dibawa ke Mentok, Bangka Barat oleh Lim Tan Kian, yang telah berganti nama menjadi Wan Abdul Hayat.

Ia merantau dari Cina ke Pulau Siantan, wilayah Kesultanan Johor. Hingga akhirnya dia tiba di Palembang dan Bangka. Oleh sebab itu, banyak orang mengenal dengan sebutan kain cual Mentok. Dilihat dari usianya yang tua, wajar saja bila songket ini sangat dilestarikan masyarakat setempat.

Dulu, kain cual Mentok dikenakan sebagai pakaian adat di lingkungan bangsawan Mentok, sekaligus menjadi pakaian kebesaran dan kebanggaan lingkungan ningrat. Masih di abad itu, benang emas yang digunakan mengandung emas seberat 18 karat. Untuk motifnya, antara lain bunga kenanga, gajahmada, bebek setaman dan kembang setangkai.

Kini, para perajin lebih sering memakai benang emas sintetis, hanya sebagian kecil perajin masih memanfaatkan benang emas murni pada kain ini. Dan, seiring perubahan zaman, kain cual Mentok tidak lagi berada di lingkungan bangsawan saja, melainkan telah menyebar di berbagai kalangan masyarakat.

Dalam hal proses pengerjaan, setiap produksi kain membutuhkan waktu berbulan-bulan agar bisa selesai. Mengapa demikian? Rumitnya proses penenunan, hingga pengadaan bahan baku yang terbilang mahal menjadi sebab lamanya pembuatan kain khas Bangka. Misal, untuk membuat kain dengan kualitas nomor satu, berbahan baku sutera tanpa campuran membutuhkan waktu sampai empat bulan.

Digunakan untuk berbagai keperluan, seperti kebaya, sarung, stanjak atau topi berbentuk layaknya mahkota, hiasan dinding, selendang, sarung tangan dan lainnya. Sementara, bahan dasarnya adalah kain sutera yang didatangkan dari beberapa daerah seperti dari  Palembang. Lalu, bahan polyster, sutera campur katun, serat kayu dan benang emas. Ditambah, sentuhan tenun tangan, membuat kain ini dijual dengan harga cukup mahal.

Sebagai contoh, untuk kain berbahan sutera dan benang emas India Sartigi saja, harganya berkisar antara Rp 2,5 juta-Rp 7,5 juta. Sedangkan kain yang hanya memakai benang emas jeli, lalu ditenun sebanyak dua sampai tiga rangkap, ditawarkan mulai dari harga Rp 500 ribu-Rp 1.250.000. Hasil produksi pun tidak hanya tersebar di Pulau Bangka dan sekitarnya, tetapi juga sudah merambah ke negeri jiran, Malaysia.

Lain halnya untuk harga kain cual kuno. Berbahan dasar jenis sutera ditambah benang emas 18 karat dan berat kurang lebih satu   kilogram, membuat tenun tersebut mempunyai nilai harga fantastis, yakni antara Rp. 18.000.000- Rp. 50.000.000 per helainya. Bagi pencinta tenun Nusantara, kain cual adalah rekomendasi tepat untuk dijadikan cenderamata. Selain ikut melestarikan budaya bangsa, Anda pun akan mendapat inspirasi berpakaian elegan dengan songket asli Bangka ini.

 


Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code