Home > Destinations > Taman Nasional Tanjung Puting, Surga Tropis di Kalimantan


Taman Nasional Tanjung Puting, Surga Tropis di Kalimantan

Related post :

" TNTP dikenal oleh dunia berkat penelitian Profesor Birutte Galdikas,wanita berkebangsaan Kanada yang sejak tahun 1971 hingga sekarang meneliti kehidupan Orang Utan dan merintis pusat penelitian
"

 

Jika ingin melihat keasrian hutan tropis Kalimantan dengan berbagai flora dan fauna yang tumbuh dan hidup liar di habitatnya, salah satu yang bisa dikunjungi dengan mudah adalah Taman Nasional Tanjung Puting.

 

Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat dan wilayah Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. TNTP terkenal dengan pusat rehabilitasi dan perlindungan Orang Utan ( Pongo Pygmaeus). TNTP dikenal oleh dunia berkat penelitian Profesor Birutte Galdikas,wanita berkebangsaan Kanada yang sejak tahun 1971 hingga sekarang meneliti kehidupan Orang Utan dan merintis pusat penelitian serta rehabilitasi Orang Utan yang telah hidup liar dan yang akan dilepasliarkan di kawasan TNTP ini.

 

Sejarah

TNTP sendiri sudah dirintis sejak jaman pemerintahan Kerajaan Kotawaringin menjadi Suaka Margasatwa pada tahun 1936. Penetapan ini  untuk melindungi hewan-hewan endemik, seperti Orang Utan, Bekantan, dan lainnya.

 

Tahun 1977, UNESCO menetapkan Taman Suaka Margasatwa  Tanjung Puting sebagai Cagar Biosfer, yaitu suatu pengelolaan untuk mempromosikan keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan berdasarkan upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahuan. Hingga akhirnya pada tahun 1996 melalui SK Menteri Kehutanan, Kawasan ini ditetapkan menjadi Taman nasional.

 

Perijinan

Untuk memasuki kawasan TNTP, pengunjung wajib membeli tiket masuk dan mematuhi peraturan yang ada. Untuk harga, dibedakan antara wisatawan Nusantara dan mancanegara. Untuk wisnus Rp 2.500,- per orang dan wisman Rp 20.000,- per orang.

 

Untuk peralatan pengambil gambar seperti handycam atau kamera foto juga dikenakan biaya. Untuk winus sebesar Rp. 5.000,- per buah dan wisman Rp. 50.000,- per buah.

 

Untuk aturan, seperti memasuki kawasan yang dilindungi, pengunjung dilarang mengambil, merusak dan mengganggu semua hal yang ada di dalam kawasan ini. Yang menarik adalah aturan dilarang berenang di sungai. Hal ini dikarenakan masih banyaknya buaya, yang tentu membahayakan keselamatan pengunjung.

 

Masuk Kawasan

Untuk mencapai kawasan ini ada 2 akses, yaitu lewat udara dan laut. Untuk udara, sudah banyak penerbangan menuju Bandara Iskandar, Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kota Waringin Barat.  Sedangkan untuk melalui laut, akan sampai di kota kecamatan Kumai dengan pelabuhan lautnya, Pelabuhan Panglima Utar. Dari pelabuhan inilah sebagai pintu masuk kawasan TNTP.

 

Untuk memasuki kawasan TNTP, pengunjung dapat menggunakan Klotok. Klotok adalah perahu motor yang sudah dimodifikasi menjadi “rumah terapung”. Klotok dapat ditumpangi mulai dari 2 orang wisatawan hingga 10 orang wisatawan, belum termasuk crew. Di dalamnya sudah termasuk dapur dan kamar mandi. Di samping itu di atas Klotok ini juga disediakan meja makan dan kasur untuk tidur dan bermalam.

 

Dengan Klotok, kita akan mencapai tempat –tempat pusat perlindungan Orang Utan melalui Sungai Sekonyer.  Sungai yang  berkelok-kelok ini menjadi atraksi tersendiri. Ditumbuhi Pohon Nipah di bantarannya, juga banyak satwa liar sering terlihat. Mulai dari Kera, Bekantan hingga Buaya.

 

Obyek Menarik

Tanjung Harapan.

Tanjung harapan adalah sebuah tempat di mana terdapat pos atau kantor pengelolaan TNTP. Di sini terdapat  kantor dan guest house, serta di tempat ini ada atraksi pemberian makan untuk orang utan setiap pukul 15.00.

 

Pondok Tanggui

Tempat ini juga merupakan area rehabilitasi orang utan, terutama yang remaja. Setiap pagi dapat dilihat pemberian makan untuk orang tua setiap pukul 09.00. Tanggui merupakan sebuah nama dari sebuah fenomena alam gaib ditempat ini. Pada tahun 1940-an sering ditemui mahluk aneh menyerupai manusia yang memakai Tanggui atau topi berbentuk kerucut.

 

Camp Leakey

Camp Leakey ini sebagai tempat rintisan oleh Prof. Birutte Galdikas meneliti  Orang Utan di tahun 1971. Nama Leakey sendiri merupakan nama guru dari Prof. Galdikas. Louis Leakey, seorang ahli Paleoantropologist.

 

Di tempat ini 200 Orang Utan telah dilepasliarkan. Hingga tahun 1995 pemerintah Indonesia melarang pelepasliaran dan karena dirasakan kawasan ini telah cukup memiliki populasi Orang Utan yang telah beranak pinak.

 

Penginapan

Utuk bermalam, selain tersedia guest house dimasing-masing tempat, wisatawan juga mempunyai 3 pilihan lainnya. Mulai dari guest house di desa setempat, Hotel Rimba Lounge yang merupakan penginapan yang cukup mewah dengan fasilitas AC, Air Panas, Restoran dan deposit box dan yang selama ini lebih banyak dipilih wisatawan adalah tidur diatas kelotok.

 

Kekurangan di area taman nasional ini hanya sulitnya sinyal telepon selular. Hanya di beberapa tempat tertentu dengan operator tertentu juga.

 

Namun pengalaman menyusuri hutan tropis asli Kalimantan, apalagi melihat dihadapan kita kehidupan Orang Utan di habitat aslinya, semua keterbatasan yang ada terbayarkan dengan sebuah pengalaman yang tak takkan terlupakan. (ferry)


Leave Comment

Name
Email
Comment
Security Code