Menyusuri Jejak Sejarah Lempah Kuning dan Hoklopan, Kuliner Tradisional Khas Bangka Belitung


Penulis: Odi Candra

Negeri Serumpun Sebalai, begitulah slogannya. Menandakan masyarakat yang juga dikenal sebagai negeri laskar pelangi ini mayoritas bersuku Melayu. Walaupun bila kita menelusuri jejak sejarah asal muasal masyarakat (penduduk asli) pulau timah ini sendiri masih mengalami perdebatan panjang. Ada yang menyebutkan bahwa suku Melayu Bangka Belitung merupakan penduduk yang berasal dari kesultanan Johor dan kerajaan Lingga-Riau. Sumber lain menyebutkan perpaduan antara kesultanan Johor dibawah pimpinan Panglima Syara dan kerajaan Minangkabau dibawah pimpinan Hulubalang Alam Harimau Garang saat keduanya diutus untuk menumpas lanun di Bangka.

Hulubalang Alam Harimau Garang kemudian berkuasa dan menetap di kota Waringin sedangkan Panglima Syara beserta pengikutnya menetap dan berkuasa di Bangka Kota serta menyebarkan agama Islam di pulau Bangka (Zahara, 2017: 5). Ada pula menyebutkan bahwa penduduk asli pulau timah ini merupakan hasil pertalian antara pelaut-pelaut yang datang dari Jawa, Palembang, Minangkabau, dan Bugis yang berubah menjadi penduduk asli baru dan kemudian membentuk kultur khas daerahnya sendiri.

Dari manapun asal muasal masyarakatnya, namun kemunculan wilayah baru dengan nama Bangka Belitung ini tentu saja tidak hanya membentuk kultur saja, namun juga membentuk cita rasa makanan khas tradisionalnya. Yaps, salah satunya Lempah Kuning ia biasa disebut oleh masyarakat yang ada di Bangka atau masyarakat Belitung menyebutnya Gangan. Disebut Lempah Kuning karena masakan ini kaya akan bumbu yang mengandung antioksidan alami, yaitu kunyit yang dicampur dengan gula, garam, cabai, bawang, asam, terasi, dan lengkuas. Bumbu rempah-rempah yang bermanfaat bagus bagi pencernaan ini selanjutnya dikombinasikan dengan nanas dan ikan laut, seperti ikan Tenggiri, Kerisi, Pari, dan ikan Ketarap.

Kuliner Warisan Leluhur Bangka Belitung,

Lempah Kuning Bersama Lalapan dan Sambal Terasi

Kuliner warisan budaya leluhur di Bangka Belitung ini merupakan menu santapan sehari-hari masyarakat. Lempah kuning juga biasanya disajikan dalam suatu hajatan dan disandingkan dengan lalapan sebagai pelengkap nan menambah nikmat makanan, seperti ketimun, terong kecil dan kecipir yang dicocol pakai sambal terasi. Dengan satu porsi Lempah kuning seharga Rp 15.000,- hingga Rp 25.000,- dan dengan kombinasi rasanya yang pedas, asam, manis, serta rasa garam yang pas, ditemani pula nasi hangat, emmm… membuat rasa kesempurnaan lidah bagi yang menyantapnya. Nafsu makan pun semakin bertambah. So Delicious.

Sementara itu, dalam perkembangan kehidupan sosial masyarakat Bangka Belitung, terjadilah asimilasi dan akulturasi dengan etnis atau suku lainnya melalui pergaulan dan perkawinan. Salah satunya dengan etnis Tionghoa. Ya, dalam sejarah pertambangan timahnya, Bangka Belitung tidak bisa lepas dari kedatangan para pekerja pertambangan timah dari Cina. Hal ini dimulai ketika Belanda mengambil alih semua pertambangan-pertambangan rakyat maupun pertambangan yang sebelumnya dikuasai oleh Kesultanan Palembang. Pada masa penguasaannya ini, Belanda mendatangkan secara besar-besaran para pekerja timah yang berasal dari Cina, khususnya didominasi dari suku Hakka (Khek).

Hadirnya asimiliasi dan akultrasi budaya ini membawa dampak positif terhadap perkembangan Bangka Belitung hingga kini, termasuk pengaruhnya dalam perkembangan kuliner. Tentu saja, kehadiran suku Hakka di Bangka Belitung menghadirkan kuliner khas yang diciptakannya. Hoklopan atau Martabak begitulah namanya dikenal. Ada pula yang menyebutnya sebagai kue terang bulan karena bentuknya bulat dan agak kuning-kuningan. Sesuai dengan namanya, yakni Hoklopan yang memiliki arti kue orang Hok Lo atau kue yang diciptakan oleh orang-orang Hakka di Bangka.

Kulier Tradisional Khas Bangka Belitung, Hoklopan atau Martabak

Walau bentuknya sederhana, namun dengan rasanya legit nan menggugah selera, membuat kue tradisional berbahan tepung terigu yang satu ini sangat disukai sehingga mudah dijumpai di berbagai wilayah Bangka Belitung, baik itu di sudut-sudut kota, hingga di desa-desa. Yaps, dengan diolesi mentega, ditaburi coklat butir yang dicampuri dengan kacang tanah dan wijen, atau campuran keju yang diparut lalu dicampur wijen dan ditambah susu kental manis membuatnya serasa menari-nari di lidah ketika kita menyantapnya. Enaaak. Walaupun Hoklopan sudah dikenal dimana-mana di seluruh Indonesia dengan nama populer Martabak Bangka, namun harganya tetaplah bersahabat dan tidak membuat kantong cemberut, yakni dihargai mulai dari Rp 20.000,- hingga dengan Rp 35.000,- per loyangnya.

Transformasi Lempah Kuning dan Hoklopan

Di era modernisasi saat ini dengan segala produk yang ditawarkannya, termasuk dalam dunia kuliner. Perkembangan kuliner di era modernisasi saat ini memberikan syarat agar kedua kuliner tradisional Bangka Belitung tersebut mampu untuk selalu menyesuaikan dengan era yang ada. Dalam perkembangannya, salah satu cara penyesuaian kuliner ini melalui transformasi, yakni perubahan atau pembaharuan dengan tidak menghilangkan unsur lamanya.

Jadi transformasi Lempah Kuning dan Hoklopan secara sederhana berarti membicarakan tentang proses perubahan penyajiannya. Seperti halnya dengan Lempah Kuning yang kini bisa dipadukan dengan kuliner-kuliner luar negeri. Pada tanggal 16 Mei 2016 lalu misalnya, salah seorang chef hotel Santika Bangka telah melakukan transformasi pada penyajian Lempah kuning, yakni melakukan perpaduan makanan tradisional tersebut dengan kuliner yang berasal dari Eropa (Italia). Menu spesial tersebut yakni lempah kuning ikan tenggiri dipadukan dengan petty (potatos, beef tenderloin, cumi tepung, dan lain-lain).

Begitupun dengan Hoklopan. Dulu, topping atau isi Hoklopan yang disajikan hanyalah berupa gula pasir dan wijen sangrai saja. Kini, seiring perkembangannya di era modern saat ini, terdapat banyak pilihan topping Hoklopan, mulai dari topping strowberi, duren, coklat, selai kacang, dan keju. Bahkan tingginya kreativitas terhadap kuliner ini, saat ini juga tersedia topping chocochipred velvetgreen tea, dan marshmellow.

Bagaimana, tertarik untuk mencicipi kedua kuliner tradisional tersebut, sembari mempelajari sejarah Negeri Serumpun Sebalai ini? Jika datang atau berkunjung ke Bangka Belitung bersama keluarga atau sahabat, maka jangan terlewatkan untuk mencicipi kuliner tradisional warisan leluhur ini. Keramahan dan senyuman para penjualnya akan semakin menambah nikmat dalam menyantap kedua kuliner tradisional khas pulau timah ini. (Odi)

 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Angry Angry
0
Angry
Cute Cute
0
Cute
Fail Fail
0
Fail
Geeky Geeky
0
Geeky
Lol Lol
0
Lol
Love Love
12
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
WTF WTF
0
WTF
Cry Cry
0
Cry
Damn Damn
0
Damn
Dislike Dislike
0
Dislike
Like Like
12
Like

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menyusuri Jejak Sejarah Lempah Kuning dan Hoklopan, Kuliner Tradisional Khas Bangka Belitung

log in

Captcha!

reset password

Back to
log in
Choose A Format
Gif
GIF format